Di Ganjuran: Bertemu Yesus Dalam Balutan Budaya Jawa

Mungkin ada yang bertanya, "Memangnya ada apa di Ganjuran? Mengapa harus pergi ke sana? Apa yang terjadi di Ganjuran?" Ganjuran itu unik, karena di Ganjuran Anda menemukan Tuhan dalam balutan budaya Jawa. Itulah yang akan tempatguru informasikan dalam tulisan ini, di Ganjuran: bertemu Yesus dalam balutan budaya Jawa.
Dalam Candi Ganjuran ada Arca Yesus, sama seperti arca Budha Gautama yang ditemukan di candi-candi Jawa
Arca Hati Kudus Yesus di dalam Candi Ganjuran hasil proses Inkulturasi Gereja Katolik



Mengapa Ganjuran?


Di Ganjuran ada tempat ziarah Katolik yang tidak boleh Anda lewatkan. Tempat ziarah itu bernama Gereja Hati Kudus Ganjuran.
Tampang luar Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, bangunan bergaya Jawa. Hanya Salib di atap yang menjunjukkannya sebagai Gereja

Tampak luar Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran. Salib di atap adalah petunjuk sebagai bangunan Gereja




Paling tidak ada tiga alasan mengapa Gereja Hati Kudus Yesus harus masuk dalam agenda ziarah katolik Anda.

  1. Pertama, bangunan gereja yang unik; bergaya joglo, berbentuk salib dengan salib di atas atapnya, hasil perpaduan antara Eropa – Hindu dan Jawa.
  2. Kedua, keberadaan Candi Hati Kudus Yesus. Semua orang tahu, candi itu identic dengan Hinduisme dan Budhisme. Namun, di Gereja Ganjuran, Anda akan menemukan sebuah candi, tempat disemayamkan Hati Kudus Tuhan Yesus yang sangat mirip dengan arca Budha Gautama tetapi tetap tampil dalam wajah Yesus.
  3. Ketiga, Upacara liturgis yang dikemas dalam balutan ritus budaya sehingga unik, menarik dan berkesan. Di Ganjuran ada waktu-waktu di mana ritual ibadat diadakan sesuai dengan budaya Jawa. Mungkin secara gramatikal, bila bukan orang Jawa atau tidak memahami bahasa Jawa, Anda tidak akan memahaminya. Namun Anda tetap bisa mengikutinya secara khusuk. 

Lokasi dan Sejarah Berdiri Gereja Ganjuran

Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran terletak di Ganjuran, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 17 kilometer dari kota Jogjakarta. Menempati tanah seluas 2,5 hektar, Gereja Ganjuran memperlengkapi diri dengan semua fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan devosi umat Katolik.

Keberadaan Candi Hati Kudus di belakang gereja memperlihatkan penyerapan unsur-unsur hinduisme dan budhisme oleh pendiri gereja
Ternyata ada Candi versi Katolik walaupun tidak sebesar dan belum seterkenal candi-candi Hindu dan Budha di Jawa ketika kedua agama itu dianut oleh mayoritas orang Jawa


Gereja ini didirikan oleh keluarga Schmutzer, orang Katolik Belanda yang memiliki pabrik gula di wilayah Ganjuran.


Terinspirasi oleh Ajaran Sosial GerejaReru Novarum, keluarga ini bukan saja mencari untung lewat pabrik gula milik mereka, tetapi juga membuka lembaga nonprofit untuk kepentingan para buruh yang bekerja di pabrik gula milik mereka. Mereka membuka sekolah dan rumah sakit. Yang masih berdiri hingga kini adalah Rumah Sakit Panti Rapih yang sudah dipindahkan ke kota Jogja.


Disamping itu, mereka mendirikan gereja dan mendorong karyawan yang bekerja pada mereka untuk menjadi Katolik. Sekarang, gereja yang mereka dirikan lebih dikenal dengan nama Gereja Ganjuran. Fondasi Gereja yang dimulai dengan 25 baptisan penduduk asli, sekarang sudah berkembang menjadi sekitar 10.000 orang.


Walaupun bukan anggota hirarki ( imam dan uskup ), Schmutzer amat memahami bahwa Gereja harus mengakar pada budaya setempat ( dalam istilah Vatikan 2 disebut dengan gerakan Inkulturasi ). Karena itu, sebelum gereja didirikan mereka memikirkan sebuah master plan Gereja yang berwajah Jawa, yang mampu meresapi nilai-nilai ke-Jawaan yang telah berinteraksi dengan agama-agama lainnya selama ribuan tahun.



Gereja Jawa Bernama Ganjuran

Untuk memfasilitasi 25 baptisan baru, tanggal 16 April 1924, keluarga Schmutzer mendirikan gereja di area pabrik milik mereka.
Interior Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran yang full bernuansa Jawa menciptakan kenyamanan Gereja sebagai rahim Jawa


Arsitektur gereja dipecayakan kepada seorang arsitek Belanda, J Yh Van Oyen. Gereja itu dibangun dengan memadukan gaya Eropa, Hindu dan Jawa. Gaya Eropa termanivastasi dalam denahnya yang berbentu salib bila dilihat dari udara. Budaya Jawa menyumbang gaya joglo untuk gedung gereja termasuk hiasan ukiran Jawa serta nanas pada pilar-pilar gereja serta ukiran berbentuk jajaran genjang yang disebut wajikan. Sedangkan Hindu mematrikan dirinya dalam patung-patung kudus berbentuk arca seperti arca-arca di candi-candi Hindu Jawa.


Nuansa Jawa begitu kental terekspresi dalam interior Gereja, sebuah keberhasilan inkulturasi Gereja yang tetap menghargai akar-akar budaya setempat sehingga umatnya tetap merasa sebagai orang Jawa sekalipun beragama Katolik.


Gedung Gereja yang sekarang adalah hasil renovasi besar-besaran setelah gempa bumi tahun 2006. Pendopo gereja dikerjakan langsung oleh pihak Keraton Yogyakarta. Mereka mendatangkan pemahat khusus untuk membuatkan pahatan-pahatan kayu yang mirip dengan keraton.

Malaikat Penjaga Tuhan Yesus yang bersemayam dalam Tabernakel dipahat dalam versi arca Jawa yang dipengaruhi Hindu-Budha

Kuatnya pengaruh Hindu-Budha terekspresi dalam patung Malaikat penjaga Tabernakel



Pada kanan kiri altar juga terdapat patung malaikat berbusana tokoh wayang orang sedang menyembah. Sementara empat tiang kayu jati bergaya Jawa yang menopang atap berbentuk tajug menggambarkan empat penulis Injil, yakni Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Relief Yesus memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya Jawa pada Gereja ini  digambarkan sebagai raja Jawa yang bertahta di singgasana
Relief Tuhan Yesus yang ditampilkan sebagai seorang Raja Jawa



Gaya Jawa juga terlihat pada relief Yesus yang digambarkan sebagai raja Jawa yang bertahta di singgasana. Pada bagian bawah relief ini terdapat tulisan Sang Maha Prabu Jesus Kristus Pangeraning Para Bangsa.


Sedangkan relief Bunda Maria digambarkan sebagai Ratu Jawa yang sedang memangku Yesus yang masih anak-anak. Pada bagian bawah relief ini terdapat tulisan Dyah Marijah Iboe Ganjoeran. Baik Yesus maupun Bunda Maria dalam relief ini juga berparas Jawa dan mengenakan kostum Jawa.
Relief Bunda Maria yang sedang menggendong Yesus digambarkan sebagai seorang Ratu Jawa
Bunda Maria sedang menggendong Yesus dilukiskan sebagai Ratu Jawa yang berkuasa


Karena inkulturasi yang nyaris sempurna, Gereja Hati Kudus Ganjuran sangat direkomendasi untuk ziarah katolik Anda.

Yang lebih unik dari Gereja Hati Kudus Yesus adalah kehadiran Candi Hati Kudus Yesus, juga dalam kompleks gereja seluas 2,5 ha tersebut.

Candi ini didirikan tahun 1927, tiga tahun setelah Gereja Hati Kudus didirikan. Keluarga Schmutzer sebagai keluarga katolik yang taat ingin mendedikasikan tanah Jawa ini kepada Hati Kudus Yesus.


Lewat Candi Hati Kudus, pendirinya mendedikasikan tanah Jawa kepada Hati Kudus Yesus Itulah sebabnya, sebelum Candi Hati Kudus didirikan, Schmutzer bersaudara mengadakan studi banding ke beberapa candi agar selaras dengan kehadiran candi-candi sebelumnya namun diperuntukan bagi Yesus dan Hati-Nya yang mahakudus.

Dengan tinggi sekitar 10 meter, candi ini terbagi atas 3 bagian: bagian bawah berupa pelataran, tempat umat duduk bersila untuk berdoa. Bagian tengah, di mana terdapat patung Yesus dengan Hati Kudus-Nya sedang bersemayam dan bagian atas yang melambangkan Tuhan yang Maha Tinggi.

Jika pada relung candi pada umumnya terdapat patung Budha atau arca lingga yoni, pada relung candi Hati Kudus Yesus terdapat patung Yesus yang mengenakan pakaian adat Jawa dengan rambut menyerupai pendeta Hindu dan sebuah mahkota di kepala-Nya.

Area terbuka yang luas di depan candi Hati Kudus Yesus Ganjuran, tempat untuk berdoa dan bermeditasi
Area depan Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran yang luas untuk Perayaan Ekaristi, doa dan meditasi 



Di depannya ada halaman candi yang luas dan terbuka, tempat para peziarah dan umat berdoa sebelum memasuki relung untuk bertemu dengan Hati Kudus Yesus.


Penemuan Sumber Air Penuh Mukjizat

Air Tirta Perwitasari yang ditemukan di dasar Candi Hati Kudus Ganjuran dan bisa menyembuhkan penyakit
Sumber air Tirta Perwitasari yang dialirkan lewat keran-keran untuk memudahkan proses pengambilannya


Pada 1998 ditemukan mata air pada dasar candi Hati Kudus Tuhan Yesus ini. Sangat jernih dan dapat langsung diminum. Dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan penyakit.

Mata air ini diberi nama Tirta Perwitasari. Tirta berarti air, adapun Perwitasari diambil dari nama orang yang pertama kali merasakan mukjizat air tersebut.

Sejak diketahui khasiat air itu, Gereja Ganjuran menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi dan terbuka bagi siapa saja. Bukan saja untuk orang Katolik.

Selain bangunan Gereja dan Candi, juga terdapat Stasi Jalan Salib yang bisa membantu Anda memvisualisasi jalan salib Yesus mulai pada saat ditangkap di Taman Getsemani hingga kebangkitan-Nya dari dalam kubur.



Rekomendasi Untuk Anda


Menyempurnakan peziarahan Anda, pihak Gereja Ganjuran mengalirkan air Tirta Perwitasari dari sumbernya menuju keran-keran yang sudah disediakan. Penyaluran ini bertujuan memudahkan umat dan peziarah untuk mengambil air tersebut.

Keberadaan air Tirta Perwitasari merupakan favorit bagi banyak peziarah. Banyak peziarah yang mengakhiri ritual pribadi dengan meminum langsung dan membawa pulang air tersebut.

Sudah banyak kesaksian penyembuhan yang terjadi setelah orang pulang berziarah dan berdoa di Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran. Anda boleh percaya atau tidak.

Stasi Jalan Salib di tembok bagian Timur Kompleks Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran
Kompleks Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran dilengkapi dengan Stasi Jalan Salib untuk umum


Namun, bila pada mereka terjadi kesembuhan, sangat mungkin itu juga bisa terjadi bagi Anda. Yang penting Anda cukup memiliki iman sebesar biji sesawi saja.

Nah, bila Anda memiliki iman itu, agendakan Hati Kudus Yesus Ganjuran dalam daftar perjalanan ziarah Anda. Sesungguhnya Yogyakarta memiliki banyak sekali tempat Ziarah Katolik. Kunjungan ke Gereja dan Candi  Hati Kudus Ganjuran dapat dilengkapi dengan kunjungan ke Gua Maria Sendangsono dan Gua Maria Jatiningsih serta beberapa tempat ziarah lain di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah yang akan kami informasikan di artikel yang lain. 

Memang kesembuhan dan mukjizat lainnya bisa terjadi di mana saja. Namun niat, usaha dan pengorbanan Anda untuk pergi ke Rumah-Nya di Ganjuran akan diganjar oleh Tuhan di sana, saat Anda secara khusuk bersembah sujud di hadapanNya.

Sebab bagi Dia tidak ada yang mustahil.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url