Auguste Comte: Peran Positivisme dalam Lahirnya Sosiologi di Eropa

Auguste Comte: Peran Positivisme dalam Lahirnya Sosiologi di Eropa
Auguste Comte, perintis lahirnya Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat


tempatguru.com. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang pertama kali lahir di Eropa, dirintis oleh Auguste Comte.Ia sangat prihatin atas nasib masyarakat Perancis kelas bawah yang tetap terpuruk setelah terjadinya Revolusi Perancis. Menurutnya, perlu cara baru mempelajari masyarakat di tengah perubahan cepat dan terus terjadi untuk memperbaiki kondisi sosial yang ada. Auguste Comte adalah Perintis Sosiologi.


Latar Belakang Lahirnya Sosiologi


Comte membangun cara baru mempelajari masyarakat berdasarkan tinjauan sejarah Eropa umumnya dan keprihatinannya terhadap kondisi sosial masyarakatnya.


Karena itu, sebelum mempelajari Sosiologi kita perlu memahami dahulu sejarah perubahan masyarakat Eropa.



1. Masyarakat Eropa Feodal


Sistem feodal adalah suatu bentuk masyarakat yang kompleks dan hierarkis atau bertingkat, di mana tanah menjadi faktor utama dalam distribusi kekuasaan, ekonomi, dan hubungan sosial.


Kelas paling atas ( Raja atau Bangsawan ) adalah pemiliki tanah. Kelompok ini menyewakan tanah kepada vasal dalam bentuk persetujuan atau kontrak. Vasal berjanji untuk memberikan loyalitas, dukungan militer, dan jasa lainnya kepada penguasa. Selanjutnya para vasal menyewakan tanah itu kepada para petani.


Jadi, dalam sistem masyarakat feodal Eropa, ada hierarki kekuasaan yang didasarkan atas tanah. Kelas atas, yaitu raja dan bangsawan sangat diuntungkan oleh sistam ini. Mereka tidak bekerja tetapi menikmasti berbagai macam keuntungan karena posisi mereka. Sedangkan kelas terbawah, yaitu para petani dan peternak harus bekerja membayar upeti kepada golongan yang lebih tinggi.


Sistem ini berjalan apa adanya tanpa kritik atau penolakan karena adanya keyakinan religious bahwa hierarki sosial merupakan suatu yang wajar, natural dan menjadi fenomena umum seperti yang juga ditemukan dalam hierarki Gereja Katolik, sebuah sistem keyakinan agama yang dianut masyarakat Eropa masa itu.


2. Lahirnya Ilmu Pengetahuan Modern


a. Metode Ilmiah


Sebetulnya materi yang dijadikan objek studi Sosiologi sudah didalami oleh para pemikir Yunani klasik seperti Socrates, Plato atau Aristoteles dan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun. 


Tetapi, "Mengapa pengembangan sosiologi sebagai disiplin ilmu tersendiri baru dimulai pada periode modern?" Hal itu terjadi karena baru pada era modernlah Masyarakat dipelajari secara sistematis, menggunakan Metode Ilmiah, sebuah cara kerja yang standar dalam dalam ilmu pengetahuan.

 

Kalau berbicara tentang Metode Ilmiah, kita tidak boleh melupakan jasa Francis Bacon. Di Eropa, sebelum Francis Bacon, ilmu pengetahuan banyak bergantung pada pendapat dan pandangan Aristoteles dan Plato  serta keyakinan agama Kristen. Pada Abad Pertengahan, selalu ada Upaya  menggabungkan ilmu pengetahuan dengan kepercayaan agama.

 

Walaupun ada beberapa penelitian dan eksperimen yang dilakukan, ilmu pengetahuan pada waktu itu tidaklah terorganisir dan sistematis seperti yang diusulkan oleh Bacon.

 

Bacon mengubah cara pandang terhadap ilmu pengetahuan dengan merekomendasikan  metode ilmiah yang lebih sistematis.

 

Ia mendorong penggunaan metode induktif, yang melibatkan pengamatan teliti dan pembentukan kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan. Hal ini membantu ilmu pengetahuan berkembang dengan lebih terstruktur.



b. Penjelajahan ke Dunia Baru


Sejak zaman pencerahan, ilmu pengetahuan modern berkembang pesat. Ada beberapa penemuan penting yang dihasilkan, di antaranya teknologi maritim penting seperti kompas dan navigasi. Pemahaman baru tentang bentuk bumi dan posisi astronomis semakin meningkatkan akurasi penjelajahan dan pembuatan peta.


Teknologi itu memungkinkan para penjelajah Eropa melakukan ekspedisi ke seluruh dunia dan membuka jalan bagi ekspansi Eropa ke berbagai benua dan menemukan rute perdagangan baru.


Efek dari penjelajahan dan penemuan dunia baru menyebabkan munculnya kelas sosial baru yang tidak terikat pada feodalisme tradisional.


c. Revolusi Industri


Pesatnya perkembangan ilmu pengatahuan juga memicu penemuan teknologi baru di bidang lain. Di antaranya penemuan mesin uap oleh James Watt. Penemuan ini menjadi pendorong utama revolusi industri. Mesin uap ini digunakan dalam berbagai sektor, seperti pertambangan, industri tekstil, dan transportasi yang mempercepat produksi dan transportasi barang.


Revolusi industri juga melahirkan teknologi lain di antaranya i penggunaan tenaga air dan listrik, serta kemajuan dalam produksi besi dan baja. Semua ini mengubah cara manusia bekerja dan hidup secara fundamental, meningkatkan produktivitas dan membuka era industri yang baru.


Bila di wilayah Eropa lain, feodalisme masih eksis, Revolusi Industri di Inggris benar-benar mengubah masyarakat Inggris. Feodalisme menghilang dan Inggris berubah menjadi masyarakat industri. Perubahan itu juga mengakibatkan munculnya hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.



3. Revolusi Perancis


Revolusi industri, pemikiran sosial tokoh-tokoh ilmuan Perancis dan terutama keberhasilan Revolusi Amerika pada tahun 1776 juga menjadi sumber inspirasi bagi kelompok-kelompok masyarakat Prancis yang bersemangat untuk mendapatkan kebebasan politik dan menggulingkan sistem monarki absolut Perancis yang feodalis.



Pada 14 Juli 1789, rakyat Perancis menyerang penjara Bastille, yang dianggap sebagai symbol tirani kerajaan. Diikuti dengan serangkaian gerakan dramatis, Revolusi mencapai puncaknya dalam konsolidasi kekuasaan ketika Napoleon Bonaparte mengambil alih pemerintahan Perancis melalui kudeta. Revolusi Perancis berhasil menumbangkan sistem monarkhi dan menggantikannya dengan sistem republic.



Peran Auguste Comte dalam Lahirnya Sosiologi


Revolusi Perancis telah menciptakan ketidakstabilan sosial dan politik di Prancis. Peristiwa ini menginspirasi Comte untuk memahami masyarakat secara lebih dalam. Ia juga terdorong untuk mencari solusi terhadap masalah-masalah sosial yang dihadapi negaranya.


Itulah sebabnya, Comte mengabdikan dirinya pada studi tentang masyarakat dan mencari pemahaman yang lebih ilmiah tentang perubahan sosial.



a. Hukum Tiga Tahap


Untuk mendapatkan pemahaman tentang masyarakat Eropa, Comte menelusuri sejarah bangsa itu. Berdasarkan penelusuran itu, Comte memperkenalkan teori Hukum Tiga Tahap dalam bukunya, "The Course in Positive Philosophy".


Dalam teori ini, Comte memetakan keberadaan peradaban Eropa dalam tiga tahap. Secara singkat, tahap-tahap itu kami sebutkan di bawah ini:

1. Tahap Teologis/Teistik


Pada tahap ini, pemikiran manusia didasarkan pada kepercayaan atau keyakinan dan interpretasi teologi.


Semua fenomena dihubungkan dengan kekuatan supranatural, dewa-dewa atau entitas gaib. Manusia menggunakan mitos atau keyakinan teologis untuk menjelaskan fenomena alam seperti angin, hujan, gempa bumi, kemarau dan sebagainya.


2. Tahap Metafisik/Abstrak


Pada tahap ini, pemikiran manusia mulai beralih dari penjelasan teologis ke penjelasan teori dengan konsep-konsep yang abstrak.


Manusia mulai mengandalkan konsep-konsep abstrak seperti kekuatan alam, esensi, dan hukum alam. Semua fenomena tidak lagi dihubungkan dengan dewa-dewa atau kekuatan gaib tetapi dijelaskan dengan menggunakan pemikiran dan gagasan-gagasan yang bersifat logis dan spekulatif.


Menurut Comte, metafisik merupakan tahap peralihan menuju tahap positif. Pada tahap ini, manusia mulai berpikir rasional dan sistematis.


3. Tahap Positif


Pada tahap ini, masyarakat mencapai tingkat pemikiran yang paling maju dan rasional, di mana penjelasan berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengamatan empiris menjadi dominan dalam memahami dunia dan masalah sosial.


Manusia meninggalkan penjelasan berdasarkan kepercayaan teologis (tahap teologis) dan konsep-konsep abstrak (tahap metafisik). Mereka mengadopsi metode ilmiah untuk memahami fenomena alam dan sosial. Pemikiran positif menekankan pentingnya fakta dan data yang dapat diobservasi, diukur, dan diuji secara objektif.


b. Positivisme


Tahap positif merupakan landasan bagi positivisme Comte. Positivisme Comte menekankan pentingnya metode ilmiah sosial dalam meningkatkan kehidupan manusia dan masyarakat.


Menurut Comte, Metode Positif memiliki tiga karakteristik, yaitu:

a. Berdasarkan Fakta


Metode Positif memfokuskan diri pada fakta atau kejadian nyata yang benar-benar terjadi. Ini berbeda dengan pemikiran teologis sebelumnya yang hanya memfokuskan diri pada misteri dan mitos ( tahap teologis ) dan pemikiran filosofis yang hanya memfokuskan diri pada cara berpikir deduktif yang abstrak dan logis ( pada tahap metafisik).



2. Memiliki Kegunaan


Metode Positif mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang praktis dan berguna bagi masyarakat, bukan hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu saja seperti yang terjadi dalam filsafat.



3. Bersifat Objektif


Metode Positif mengarahkan perhatiannya pada kepastian dan kebenaran objektif, bukan pada perkiraan atau spekulasi dengan menggunakan pemikiran logis semata.


Dаrі kеtіgа karakteristik dі atas, terlihat jelas bahwa уаng раlіng реntіng dari Mеtоdе Positif аdаlаh pengetahuan yang terbangun tеntаng fаktа-fаktа ѕоѕіаl уаng раѕtі, cermat dan bеrmаnfааt.


Bаgіnуа, Metode Positif ini harus dilengkapi оlеh bеbеrара sarana bаntu, уаіtu реngаmаtаn, реrbаndіngаn, еkѕреrіmеn dаn metode hіѕtоrіѕ.



c. Dari Fisika Sosial ke Sosiologi


Dalam pengembangan sosiologi, Comte berusaha memisahkan ilmu sosial dari pemikiran spekulatif dan filsafat abstrak, dan lebih mengutamakan metode ilmiah yang objektif dalam memahami dinamika sosial dan struktur masyarakat.


Berdasarkan teori hukum tiga tahap dan positivisme yang ia kembangkan, Comte mendorong pendirian ilmu sosial yang mandiri dan berbasis pada metode ilmiah yang objektif.


Mulanya, Comte menggunakan istilah "fisika sosial" untuk menggambarkan ilmu yang mempelajari masyarakat. Latar belakang penggunaan istilah ini terkait dengan perkembangan pemikiran Comte dan pengaruh dari pemikiran ilmiah pada zamannya.


Berikut adalah beberapa latar belakang yang mempengaruhi penggunaan istilah "fisika sosial":


1. Pengaruh dari Metode Ilmiah


Comte terinspirasi oleh metode ilmiah dan kesuksesan ilmu fisika dalam memahami dan menjelaskan fenomena alam. Ia ingin mengadopsi pendekatan ilmiah yang sama untuk mempelajari masyarakat dan menerapkan metode-metode tersebut guna mengungkap hukum-hukum sosial yang mengatur perilaku manusia dan struktur masyarakat.


2. Analogi dengan Ilmu Fisika


Comte melihat analogi antara ilmu fisika dan studi tentang masyarakat. Seperti ilmu fisika yang mempelajari materi dan energi dalam alam semesta, Comte ingin mempelajari struktur dan dinamika sosial dalam masyarakat manusia. Dia berpendapat bahwa seperti materi dan energi, masyarakat juga diatur oleh hukum-hukum alam yang dapat diidentifikasi dan dipahami melalui pendekatan ilmiah.


3. Penekanan pada Sifat Ilmiah


Dengan menggunakan istilah "fisika sosial," Comte ingin menegaskan sifat ilmiah dari disiplin ini. Ia berharap agar pemahaman tentang masyarakat harus didasarkan pada observasi, pengamatan, dan pengetahuan empiris yang dapat diuji secara objektif.


Penggunaan istilah "fisika sosial" menekankan pentingnya mengadopsi metode ilmiah dalam mempelajari masyarakat.




d. Sosiologi Ilmu yang Mempelajari Masyarakat


Namun, kemudian Comte menggantikan istilah "fisika sosial" dengan "sosiologi" karena ia menyadari bahwa studi tentang masyarakat melibatkan aspek yang lebih kompleks daripada materi dan energi yang dipelajari dalam fisika.


Istilah "sosiologi" memberikan fokus yang lebih tepat pada studi tentang masyarakat, hubungan antarindividu, dan struktur sosial yang lebih luas.


Comte menggantikan Fisika Sosial dengan “Sosiologi” karena visi dan misinya ingin menciptakan sebuah ilmu yang khas dan independen dengan berfokus pada pemahaman masyarakat secara ilmiah.


Nama "sosiologi" berasal dari kata Latin "socius" yang berarti "masyarakat" dan kata Yunani "logos" yang berarti "ilmu" atau "pengetahuan". Dengan menggabungkan kedua kata tersebut, Comte menciptakan istilah "sosiologi" untuk menggambarkan ilmu yang mempelajari masyarakat sebagai objeknya.


Ada beberapa alasan mengapa Comte memilih nama "sosiologi" untuk disiplin ini:


1. Menggarisbawahi Fokus pada Masyarakat


Dengan menggunakan kata "sosiologi", Comte ingin menegaskan bahwa objek utama ilmu ini adalah masyarakat dan hubungan antarindividu dalam masyarakat. Dia ingin membedakan sosiologi dari disiplin lain yang mungkin juga mempelajari manusia, seperti psikologi yang memfokuskan pada individu.


2. Memberikan Identitas Ilmiah yang Khas


Dalam memilih nama "sosiologi," Comte ingin memberikan identitas ilmiah yang jelas dan khas bagi ilmu sosial yang dia usulkan. Dia ingin menunjukkan bahwa sosiologi adalah disiplin yang didasarkan pada metode ilmiah dan pengetahuan empiris, dan bukan hanya spekulasi filosofis atau teori abstrak.


3. Mengakui Keberadaan Hukum-Hukum Sosial


Comte percaya bahwa masyarakat diatur oleh hukum-hukum sosial yang dapat diidentifikasi dan dipahami melalui penelitian ilmiah. Dengan menggunakan istilah "sosiologi," dia ingin menekankan pentingnya mempelajari hukum-hukum sosial ini dan menjadikannya fokus utama dalam ilmu ini.


Dengan demikian, penggunaan istilah "sosiologi" oleh Comte membantu menciptakan identitas dan batasan yang jelas bagi disiplin ilmu yang mempelajari masyarakat. Istilah ini telah bertahan hingga saat ini dan digunakan secara luas untuk menggambarkan studi tentang masyarakat sebagai objek penelitian ilmiah.


Penutup: Peran Positivisme dalam Kelahiran Sosiologi



Sosiologi dirintis oleh Auguste Comte. Dipicu oleh keprihatinannya terhadap nasib masyarakat kelas bawah di Perancis setelah Revolusi Perancis. Comte mengusulkan metode positif dalam mempelajari masyarakat, terinspirasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan modern, seperti penjelajahan ke dunia baru, revolusi industri, dan peristiwa Revolusi Perancis.



Revolusi Perancis menjadi pemicu utama bagi Comte untuk memahami masyarakat secara lebih mendalam. Ia mengusulkan teori Hukum Tiga Tahap, yang memetakan peradaban Eropa ke dalam tiga tahap: teologis/teistik, metafisik/abstrak, dan positif. Comte juga menekankan pentingnya metode ilmiah dan positivisme dalam memahami masyarakat.


Comte awalnya menggunakan istilah "fisika sosial" untuk menggambarkan ilmu yang mempelajari masyarakat. Namun, ia kemudian menggantikannya dengan "sosiologi" untuk memberikan fokus yang lebih tepat pada studi tentang masyarakat dan hubungan sosial dalam ilmu ini.


Auguste Comte meletakan dasar bagi Sosiologi menjadi ilmu pengetahuan independen yang berbasis pada metode ilmiah dan positivisme. Dengan penggunaan istilah "sosiologi," Comte memberikan identitas ilmiah yang khas untuk disiplin ini, yang terus berkembang dan relevan hingga saat ini.


Simak materi ini di YouTube:
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url